DR. Shri IGN Arya Wedakarna MWS III

Wedakarna

Maraknya aksi – aksi premanisme di Tanah Air beberapa waktu terkahir ini, mau tidak mau akan berpengaruh pada ketahanan keamaanan di Pulau Dewata. Pengaruh premanisme dalam kedok organisasi kemasyarakatan ( ormas ) yang kini marak di Bali, bagi sebagian kalangan dianggap sebagai bentuk kegagalan aparat hukum dan keamanan dalam menjaga  kedaulatan dan stabilitas tanah Bali.

Lalu bagaimana seharusnya komponen rakyat Bali menyikapi hal ini ? Berikut petikan wawancara Detik Bali dengan sosok muda Bali yang baru – baru ini meraih gelar sebagai salah satu dari 42 Tokoh Muda Indonesia yang paling berpengaruh di Tanah Air, yakni Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ( President The Sukarno Center ) yang juga Doktor Ilmu Pemerintahan Termuda di Indonesia ini tentang ” Mengurai Potensi Konflik Sosial di Bali ” .

Bagaimana anda melihat maraknya aksi premanisme di Indonesia ini ?

Ini yang dinamakan sebagai negara ”Auto Pilot”, yakni sebuah keadaan suatu bangsa, yang kehadiran sistemnya, negaranya, state-nya tidak dirasakan dalam setiap bidang kehidupan. Ini yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah ”the failure state” ( negara gagal ). Premanisme hanyalah sebuah produk dari negara autopilot atau gagal negara. Dikeadaan ini, negara akhirnya tersandera dengan maraknya aksi premanisme baik yang berkedok pembela agama, debt collector, berkedok jasa keamanan, agen politik maupun juga yang menjual sentimen kesukuan. Premanisme yang terjadi didaerah – daerah, sesungguhnya muara dari aksi serupa ditingkatan pusat ( ibu kota Jakarta ). Dari kacamata apapun, premanisme ini tidak bisa dimaafkan, apalagi kalau sudah sampai merenggut nyawa orang lain, mengancam orang lain atau merusak dan merampas harta benda orang lain.

Lalu apa motif dengan aksi premanisme di Bali yang juga terlihat marak belakangan ini ?

Sama saja. Tidak jauh – jauh dari urusan ekonomi. Awalnya kan organisasi kepemudaan ini berprogram hanya untuk mengamankan instalasi ekonomi tertentu, seperti bar, cafe, hotel. Tapi karena selama ini tidak ada tindakan tegas, mereka memberanikan diri membuka ruang kerja kewilayah yang lebih lebar dengan modus yang lebih rapi dengan target ”ikan” yang lebih besar. Dari pengamatan saya, pasti ada dukungan oknum kepolisian atau militer dalam organisasi – organisasi seperti ini. Masyarakat sesungguhnya sudah tahu, Cuma masyarakat menunggu waktu yang tepat untuk membongkar hal – hal seperti ini. Saya yakin, suatu saat aksi penolakan masyarakat adat semacam ini akan terjadi di Bali, penolakan karena ideologi dianggap bertentangan dengan nilai – nilai Hindu dan adat Bali. Di Bali, bahkan lebih lengkap, karena setiap wilayah adat sudah mempunyai pasukan pengamanan sendiri. Kalau masyarakat adat marah, bisa habis ormas – ormasi ini. Cuma masalah waktu  saja.

Bagaimana pendapat anda tentang organisasi – organisasi kepemudaan yang justru dalam prakteknya berfungsi sebagai tenaga keamanan, debt collector bahkan kerap dengan diindetikkan dengan aksi premanisme ?

Semuanya karena faktor ekonomi. Apapun bentuk kekerasan yang ada di bumi pertiwi ini, semua adalah faktor ekonomi. Tidak lebih. Kemarin saya baru datang dari Lampung untuk melihat pembakara pura dan rumah umat Hindu di Bali. Ternyata, akar permasalahannya juga karena faktor kecemburuan ekonomi. Termasuk ormas pemuda di Bali yang berkedok apapun, itu juga karena faktor ekonomi, premanisme ini sudah menjadi lahan hidup bagi sebagian kalangan.

Apakah mereka ini termasuk dalam kegiatan mafia yang berjaringan ?

Ya jelas, karena gerakan mereka ini kan bukan gerakan normal dimasyarakat. Ditataran internasional ini disebut sebagai gerakan mafia atau mafioso. Diseluruh dunia pasti ada gerakan ini, termasuk Indonesia. Cuma kalau diluar negeri, gerakan ini gerakan profesional yang hanya menyasar pada komunitas elite. Kalau di Indonesia, justru sebaliknya. Yang jadi korban adalah rakyat kecil, jadi gerakan mereka masih kampungan dan murahan. Diluar negeri mafia itu, pakai jas dan dasi yang rapi dan tidak terlalu menonjol, mereka juga berteknologi tinggi. Tapi di Indonesia yang sangat kelihatan sekali, seperti badan yang besar dan gempal, tato disekujur tubuh, tindik dimana – mana, dan ( maaf ) terkesan dekil. Apalagi kalau sudah pakai simbol agama, seperti memelihara jenggot dan memakai pakaian agama, ini lebih kampungan lagi.

Bagaimana citra Bali sebagai daerah spiritual dengan adanya organisasi – organisasi seperti ini  ?

Citra Bali jelas dirugikan. Selama ini Bali dikenal sebagai Pulau Spiritual, Pulau Hindu dan Pulau Seribu Pura. Disatu sisi, masyarakat adat Bali sangat tekun menjaga taksu dan vibrasi Bali, tapi disatu sisi, sebagian anak – anak muda Bali menjadi preman bayaran berkedok organisasi dan laskar – laskar. Kasian para leluhur kita, yang sudah menanamkan filosophy agama dan budaya Majapahit. Kini dirusak segelintir anak – anak muda bermental preman.

Bisa anda ceritakan kronologis dari terbentuknya forum, laskar, dan organisasi pemuda yang dianggap sebagai organisasi preman di Bali ini dari perspektif anda ?

Sebagai aktivis Trisakti Jakarta 1998, saya mengamati bahwa gelombang terbentuk ormas – ormas ini pada awalnya karena melihat ada kejengahan dari pemuda Bali karena diawal reformasi banyak jasa keamanan swasta di Bali ini justru dikuasai oleh pemuda dari Nusa Tenggara, Maluku, Jawa dan dikuasai pendatang. Puncaknya, adalah adanya kerusuhan SARA di Kuta beberapa tahun lalu, dengan dibakarnya beberapa pusat ekonomi pendatang oleh lokal Bali. Jadi dari sana titik awalnya, bahwa saat itu banyak keamanan di titik ekonomi di Bali dikuasai pendatang. Dan hal ini diperparah dengan dengan kondisi Pemilu 2004 hingga pilkada yang marak sejak 2005 hingga saat ini. Dari awalnya jual jasa keamanan, sekarang menjelma menjadi agen politik. Sudah rahasia umum, ada kandidat yang memanfaatkan jasa ormas ini untuk Pemilu. Padahal suaranya ormas ini tidak seberapa, dan saya nilai jika ada parpol atau kandidat pilkada yang memakai jasa mereka, malah semakin dijauhi masyarakat.

Bagaimana anda melihat penertiban ormas ini oleh Polri ?

Saya anggap Polri belum menjalankan fungsinya dengan baik. Bahkan ada yang menuduh bahwa Polri justru memanfaatkan peran ormas ini sebagai penggertak ( Dog Fighter ) ketika menghadapi civilian dalam berbagai kasus. Saya sudah kadung kecewa sama oknum kepolisian. Justru harapan saya lebih besar pada TNI.

Lalu bagaimana dengan kejadian antar organisasi yang sering terjadi ? apakah ini karena faktor ideologi atau faktor ekonomi ?

Tahun 2011 lalu, ada sejumlah catatan terhadap aksi konflik internal dari ormas preman ini. Biasanya dimulai dari tempat hiburan dan wisata. Sampai ada yang saling tebas dan bunuh segala. Semua saya rasa faktor ekonomi, disamping juga karena ada sentimen SARA dan dendam masa lalu. Terus terang, pikiran saya masih belum terima jika kekerasan itu dilakukan oleh orang Bali. Orang Hindu Bali tidak pantas melakukan hal itu. Kasian nama kawitan kita.

Bagaimana seharusnya organisasi itu menempatkan diri sebagai penjaga ideologis Bali ?

Membentuk ormas adalah hak dari setiap warga negara. Selama membawa manfaat bagi Bali dan bangsa , itu sah – sah saja. Tapi kalau sudah menganggu nilai – nilai masyarakat, maka ormas itu harus dibubarkan demi stabilitas. Saya harap agar ormas – ormas pemuda mampu menjadi pilar penjaga adat budaya dan agama Hindu di Bali. Saya salut, ketika KTT ASEAN akhir 2011 lalu, sekelompok ormas pemuda Bali bersatu dan mengadakan press conference bersama dan  berkomitmen menjaga Bali. Saat itu, kalau tidak salah ada rencana kedatanga Hizbut Tahrir dan front Islam yang mau demo Presiden USA dan Delegasi Israel. Ini yang saya suka, Bali menunjukkan jati dirinya, untuk hal itu saya salut jika pemuda Bali bersatu dari pengacau – pengacau dari Jawa.

Lalu bagaimana dengan persaingan dengan ormas yang sama yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia misalkan kelompok pemuda yang berasal dari Flores, dari Maluku dan dari Jawa ? Bagaimana harusnya Bali menyikapi ?

Ya, track record mereka kan dikenal kurang baik ya. Kalau pemuda di Bali saya yakin masih kurang tega untuk membunuh dan membantai sesama. Karena ada faktor karmaphala dan nama baik dilingkungan pekraman. Saya rasa, pemuda – pemuda Bali bukan  tipe seperti itu. Kalau gertak mengertak, jago pasang baliho … itu okelah ! tapi saya tidak jamin jika ada pemuda dari suku lain diluar Bali yang menjalankan bisnis ini. Lihat saja, penghuni penjara Lapas Kerobokan, pasti lebih banyak dihuni oleh orang non-Bali. Atau lihat saja pembantaian keluarga di Jimbaran, pelakunya juga bukan orang Bali. Jadi ada bagusnya juga jika ormas – ormas ini punya militansi terhadap pulau mereka. Itu pujian dari saya, walau bukan alasan pembenar.

Bagaimana anda melihat pengusiran Front Pembela Islam ( FPI ) di Bumi Kalimantan oleh masyarakat adat Dayak ?

Oh, saya justru sangat berbahagia sekali dengan kejadian bagaimana FPI diusir oleh masyarakat adat Kalimantan. Justru Bali dan wilayah lainnya harus meniru, karena yang namanya premanisme berkedok agama itu harus dibumi hanguskan dari tanah air. Dan sudah tepat, jika masyarakat adat yang melakukan pembelaan. Jadi Indonesia ini sudah tidak perlu laskar atau front pembela apapun. Dan bagi saya, agama tidak perlu dibela. Itu bukan jiwa Pancasilais, itu bukan jiwa Bhinneka Tunggal Ika. Jadi saya dukung masyarakat adat Indonesia menolak keberadaan FPI. Jangan sampai negara dan bangsa, kalah oleh ormas.

Anda dikenal sebagai satu – satunya tokoh muda Bali yang dikenal menolak keberadaan FPI di Tanah Bali, apa yang melatarbelakangi?.

Bali wajib menolak FPI, Laskar Jihad, Hizbut Tahrir dan apapun namanya. Saya sebagai putra Bali yang punya hak untuk menjaga tanah leluhur saya. Dulu raja Bali, Dalem Waturenggong secara tegas menolak ada gerakan sejenis pada saat invansi Islam oleh Wali Songo. Ini Cuma pengulangan sejarah saja. Saya berani bicara, karena ada Pancasila yang menjadi pedoman saya berjuang. Tidak usah takut, kalau pemuda Bali takut nanti mereka besar kepala. Setiap jengkal tanah Bali ini milik adat. Dan saya bela legitimasi dan harga diri desa adat di Bali sampai kapanpun. Jadi ya, jangan macam – macam sama Bali.

Lalu, dari sudut pandang Sukarnoisme, apa yang bisa anda lakukan sebagai petinggi The Sukarno Center Of Indonesia ?

The Sukarno Center itu didirikan dengan komitmen kebangsaan yang sangat tinggi. Ibaratnya, bicara Indonesia dan  bicara 4 Pilar harus bicara tentang Bung Karno. Jadi The Sukarno Center tentu mendorong agar Indonesia ini agar kembali ke platform awal NKRI yakni Bhinneka Tunggal Ika. Dengan berbagai jaringan dalam dan luar negeri yang dimiliki, The Sukarno Center mendorong terus upaya – upaya agar tidak ada premanisme di Indonesia, in any form alias dalam bentuk apapun. Karena negara sudah punya alat dan hukum untuk itu.

Bagaimana umat Hindu Bali harus menyikapi hal ini sebagai komunitas mayoritas di Pulau Bali ?

Bali harus waspada, dan pemuda Bali harus tetap jaga soliditas dan persatuan sebagai sebuah kesatuan masyarakat adat. Kalau Bali rusuh dan orang Bali sudah dikenal sebagai preman, kasihan nama leluhur dan kawitan kita. Saya juga minta, adat di Bali agar mulai fokus pada hal – hal eksternal. Ini yang harus dibina.

Harapan terakhir anda pada generasi muda Bali kedepan seperti apa ?

Saya minta, anak muda Bali agar jangan menjadikan Premanisme sebagai bahan mata pencaharian. Jangan punya cita – cita menjadi debt collector, jadi preman berkedok jasa keamanan dan jangan mengambil pekerjaan yang menyakiti orang lain ( himsa karma ). Silahkan berorganisasi, karena Bali perlu anak – anak muda yang menjaga. Tapi ingat sesana, kita ini orang Hindu, didunia ini ada 1,1 Milyar orang Hindu. Kalau kita rusuh dan kriminal seperti mereka para pendatang, maka kualitas agama dan suku kita akan jadi sama rendahnya dengan kualitas mereka. Ingat, Bali adalah minoritas di negeri ini, tapi Bali akan kuat karena ada Dharma yang melindungi. Dimana – mana Pandawa itu ada 5 orang, tapi Kurawa ada 100. Jadi tenang saja, Bali akan tetap menang. Jadi saya minta semua optimis.

BIODATA

Nama Abhiseka                                : Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I

Nama Walaka                    : Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta

                                                  Wedasteraputra Suyasa III, SE(MTRU),M.Si

Tanggal Lahir                      : 23 Agustus 1980

Kantor Resmi                     : Istana Mancawarna, Tampaksiring, Gianyar

Jabatan                                :

-          President The Sukarno Center

-          President The Hindu Center Of Indonesia

-          Rektor Universitas Mahendradatta ( d/h Marhaen ) Bali

-          President World Hindu Youth Organization ( WHYO )

-          Ketua DPD PNI Marhaenisme Provinsi Bali


13 Responses to DR. Shri IGN Arya Wedakarna MWS III

  1. wayan says:

    Mantap …..

  2. Suwiyasa Jati says:

    Satrio Piningit, Momongan Ki Sabdopalon Noyogenggong. Maju terus Yang Mulia Arya Wedakarna, Bung Karno, Kanjeng Ratu Kidul, dan para Dewa selalu menyertaimu. Hare Khrisna Hare Rama

  3. sinarbawa says:

    maju terus!!!.

  4. Made Suba says:

    Setuju,,,,,

  5. Made Suba says:

    Salam Kenal Pak Arya,Dgn Kami Made Suba Asal Karang Aseng Mangkin Mekuli Ring Papua Barat Tepatnya Di Kabupaten Kaimana.Kami Ingin Bertanya Banyak Hal Tp Kiranya Enggk Ad No Yg Bs Di Hub,Kami Sering Menyaksikan Pak Arya Di Acara Pabligbagan,Sungguh Sangat berwibawa Sekali Tokoh Seperti Pak Arya Inilah Yg Di Rindukan Oleh Seluruh Orang Bali Khususnya Umat Hindu.

  6. Made Suba says:

    Menanggapi Masalah Premanisme Memang Sudah meraja lela Contoh Nyata Di Kampung Kami Dgn Bgt Gampangnya Galian C Bertebaran hampir disetiap ds di kec kubu Alat berat mulai beraksi mengeruk tanah sampai kedalaman_+ 800 meter Kami Juga Bingung Pada Siapa Kami Mengadu Karena Dalang Dibalik Semua ini Adalah Aparat kepolisian, kami sebagai masyarakat biasa tentu hanya bs meratapi desa kami yang luluh lantah,,,,,, Mohon petunjuknya Pak Arya. Terima Kasih tas Kerja Samanya,

  7. Made Suba says:

    Jika kiranya ad yang punya Masukan Mohon Di Hub, di no Ini 085 344 665 456 Terima Kasih.

  8. Inyomangunada says:

    Premanisme apapun bentuknya yang menyebabkan negara menjadi tidal aman , pemerintah Harus bertindak tegas. Untuk itu says salut Dengan pendant tegas pak arya. Maju Teri’s…………

  9. I Made Arsana says:

    Ya saya dukung terus gerakan maju Pak Arya Wedakarna, inilah sosok muda Hindu yang ditunggu tunggu oleh warga Bali……………..berani, cerdas dan berwibawa. Go ahead…………..

  10. md puja says:

    salam kenal bapak arya, dulu sekitar 15 tahun yang lalu bapak pernah beri ceramah didepan sekaa teruna teruni di banjar saya, dari waktu itu saya tau bapak orang yang konsisten mau membangun dan menjaga bali,ungkami butuh orang seperti bapak yang tidak hanya bisa koar koar tapi bapak langsung beraksi. MAJU TERUS BAPAK ARYA YANG TERHORMAT,RUBAHLAH INDONESIA MENJADI LEBIH BAIK DAN TERHORMAT DI MATA INTERNATIONAL MULAILAH DARI BALI, KARENA KAMI BUTUH ORANG SEPERTI BAPAK. SEMOGA TUHAN DAN LELUHUR SELALU MERESTUI

  11. Putu Sugiana says:

    Saya sebagai pemuda bali yg punya kawitan sangat miris melihat kondisi tanah bali sekarang.kriminalitas yg terjadi sebagian besar dilakukan oleh pendatang dari luar bali yg tentunya bukan warga hindu.seolah-olah masyarakat bali sudah mulai di ‘jajah’ oleh para pendatang.

  12. KT EBK AS says:

    pilihan saya memang ANDA yg maju jadi DPD spt5th lalu saya plih anda tapi ngak masuk mudah2an pemilu nanti semua masyarakat bali mendukungnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>