Pura Langgar, Akulturasi Hindu-Islam

0310 - Pura Dalem Jawa (Langgar) Penataran Agung Bunutin

Mushola Dan Pelinggih Berdampingan
Bangli, korandetikbali.com –  Di Bali yang dikenal dengan julukan pulau seribu pura memang begitu banyak pura. Namun diantara sekian banyak pura tersebut Pura Dalem Jawa (Langgar) Penataran Agung Bunutin yang terletak di Desa Bunutin, Tamanbali, Bangli tergolong unik. Pasalnya di samping bangunan pelinggih-pelinggih dalam areal pura tersebut terdapat Langgar (Mushola) tempat untuk bersembahyang umat muslim.

Menurut Penglingsir (Pinisepuh) Puri Bunutin Ida I Dewa Gede Oka Widyarsana Kelian Pura Dalem Jawa Ida I Dewa Gede Oka Nurjaya dan Ida I Dewa Gede Wiadnyana Pura yang bangun abad ke 17 itu terkait sejarah keturunan Kerajaan Blambangan, Jawa Timur. “Langgar ini adalah tempat beristananya Ida Mas Wilis Blambangan,” ungkap Oka Widyarsana kepada koran detik bali. Lebih lanjut dikatakan dalam areal pura yang dikelilingi telaga dan mirip Pura Tamanyun terdapat beberapa pura yakni Pura Dalam Jawa Blambangan, Pura Penataran Agung Bunutin, Pura Pajenengan dan Pura Dalem Adat Bunutin.  Sementara keberadaan Langgar dikatakan mencerminkan adanya akulturasi antara agama Hindu dan Islam. “Langgar ini mencerminkan sejak dulu ada akulturasi kebudayaan Hindu –Islam di Bali,” tegas Oka Widyarsana. Keberadaan Langgar itu, mulanya berbentuk layaknya Mushola. Namun sekitar tahun 1920 sempat direnovasi karena terbakar. Kini tampak Langgar itu dibangun dengan perpaduan ornamen dan arstektur Bali dan dibalut dengan ukiran yang dikenal dengan Patra Mesir, Patra Cina, dan Patra Belanda. Sehingga kini sepintas seperti Pura, namun masyarakat mengenal sebagai Langgar. Bagi umat Islam, Langgar tak beda dengan Masjid atau Mushola. Kata dia, banyak umat Muslim yang kebetulan mengetahui keberadaan Langgar itu singgah ke Pura tersebut untuk melakukan sholat. Sebaliknya bagi umat  Hindu, pura yang disusung oleh dadia Puri Bunutin sebanyak 87 Kepala Keluarga (KK) merupakan tempat pemujaan para leluhur. Selain keunikan tersebut sesaji yang dihaturkan di pura tersebut juga berbeda dengan pura yang lain. Terbukti di pura tersebut pantang menghaturkan sesaji berupa babi maupun ayam. “Sesaji berupa babi dan ayam sejak dulu pantang dihaturkan disini. Warga tidak ada yang berani melanggar itu,” ungkap Oka Widyarsana. Semua warga tidak ada yang berani melanggar pantangan tersebut karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan baik secara niskala maupun sekala.  Odalan di Pura Dalem Jawa setiap enam bulan sekali yang jatuh pada Wrespati Manis wuku Dungulan (Umanis Galungan).  Selain piodalan setiap Tilem sasih Kaulu sekitar bulan Februari ada upacara yang dikenal dengan sebutan Titi Mamah. Keunikan ritual Titi Mamah diwarnai dengan tradisi mengkurbankan seekor sapi jantan muda yang belum ditusuk hidungnya (warga menyebut – godel bang). Sebelum dikurbankan dengan disembelih, godel bang ini akan diupacari dengan ritual tertentu. “Setelah dipotong, daging godel bang akan dibagikan kepada warga (kurban). Sementara bagian kepala, kulit, dan beberapa bagian tubuh tertentu dari sapi muda ini akan dipersembahkan sebagai kurban dan dilarung ke kolam di sekitar Pura Langgar,” jelas Oka Widyarsana. rid


6 Responses to Pura Langgar, Akulturasi Hindu-Islam

  1. Bintang says:

    Artikel yg sangat menarik dan menambah wawasan tentang keunikan Bali.
    Mdh2an kedepan koran Detik Bali lbh sering memuat hal hal unik lainnya.

  2. arman says:

    itu adalh ciri khas umat hindu bali dgn toleransi ,tatwam asinya,,,,tapi apakah toleransi itu ada pada islam,,sampai saat ini semoga kedamaian terbuka syg sesuai dgn CIRI pura ini.
    tapi sukur di bali kalo luar bali udah jadi apa??????
    salam damai

  3. Ida Bagus Made Supresna Astika says:

    Sebagai masyarakat Bangli Tentunya saya Bangga dengan purya Pura Dalem Langgar sebagai Cerminan Toleransi dan Elingnya masyarakat Bali terhadap Sesama umat manusia.
    Tetapi bentuk toleransi itu semestinya tidak sampai pada perubahan struktur Pura yang merupakan Tempat Suci Umat Hindu.
    Sebaab rasanya tidak Etis kalau kita membangun Pura di dalam Lingkungan masjid dan sulit rasanya itu Terjadi.

  4. Lukman agus f says:

    Om swastiastu… Ini adalah bentuk tingginya toleransi masyarakat Hindu bali terhadap umat dan agama lain..khususnya islam…mudah mudahan ini bisa menyadarkan umat islam di indonesia dan di seluruh dunia agar bisa bertoleransi terhadap agama dan kepercayaan lain..saya ingin mengunjungi dan melakukan sholat di sana…om shanti shanti shanti om..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>